Menuju Osaka

“Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rampuh.” by Dee Lestari.

TAJA3543

Selasa, 15 Maret 2016, hari ini adalah hari terakhir kami di Kyoto. Setelah packing dan sarapan, kami check out dengan menitipkan bagasi di j-hoppers. Hari ini kami akan mengunjungi Fushimi Inari sebelum berangkat ke Osaka dengan menggunakan kereta. Fushimi Inari masuk dalam list tempat yang wajib saya kunjungi jika ke Kyoto, tempat ini juga merupakan salah satu lokasi film memory of geisha. Kami tiba sekitar pukul 8 pagi waktu Kyoto, suasana disanapun sudah mulai ramai, ada yang sedang berdoa, ada yang sedang diramal atau sedang menulis harapan diatas miniatur torii yang memang banyak tersedia disana (berbayar loh ya, ngak gratis hehehe) berfoto ataupun menikmati jajanan makanan yang banyak dijual disekitaran Fushimi Inari.

Mengutip salah satu artikel Wikipedia, Fushimi Inari adalah kuil Shinto yang berada di Fushimi-kuKyotoJepang. Kuil ini merupakan kuil pusat bagi sekitar 40.000 kuil Inari yang memuliakan Inari. Kuil utama (honden) terletak di kaki Gunung Inari, dan tanah milik kuil mencakup gunung yang tingginya 233 meter. Inari dipercaya sebagai dewa pertanian. Aula utama kuil ini ditetapkan pemerintah Jepang sebagai warisan budaya yang penting. Sejak abad ke-17, penganut kuil Fushimi Inari memiliki tradisi membangun torii. Sekitar 10.000 torii yang berderet-deret di Gunung Inari merupakan hasil sumbangan umat. Di antaranya, Senbon torii (deretan seribu torii) telah menjadi salah satu objek pariwisata, lengkapnya silahkan check di https://id.wikipedia.org/wiki/Fushimi_Inari_Taisha

Setelah puas melihat dan berfoto dengan latar deretan torii, kami mulai menapaki jalan kembali ke gerbang depan sembari beberapa kali berhenti untuk mencicipi makanan yang banyak ditawarkan disana, sampai saya kekenyangan 🙂

Akhirnya kami kembali ke  j-hoppers untuk mengambil barang-barang dan berangkat ke Osaka menggunakan kereta dengan biaya 560 yen untuk setiap orang, setibanya di Osaka Station kami lanjut ke daerah Shin Imamiya dengan biaya 180 yen. Hotel kami kali ini adalah hotel Sunplaza 2 Annex yang dekat dengan stasiun, sepertinya untuk terakhir kalinya saya menggunakan hotel ini hahaha kapok.

GRCG0227

JDYO5832

Setelah check in, beberes sebentar, perjalanan dilanjutkan ke Osaka Castle. Hari sudah sore saat kami tiba disana, suasana di Chou-ku sangat ramai karena malam nanti ada konser didaerah itu. Kami memasuki area Osaka Castle dengan bersemangat bahkan lebih sering berhenti untuk berfoto 😀 sampai saya bingung harus berpose seperti apalagi.

MJXH7524

PJPG3038

Ada satu taman disana yang memiliki banyak pohon sakura, beberapa diantaranya sudah mekar, akan tampak sangat cantik pada saat mereka mekar semua 🙂 tentu saja kami tidak lupa untuk mengambil beberapa foto disana, saking asyiknya lupa kalau langit sudah mulai gelap. Ketika berjalan keluar saya berpapasan dengan seorang pria, sembari berjalan dia mengucapkan salam “Assalamualaikum” tentu saja kami jawab salamnya, dia tersenyum dan berkata “Indonesia?”, saya menjawab iya, dan balik bertanya kepadanya, dia menjawab “bukan” hahaha jawabannya tentu saja membuat bingung, dia menjawab dalam bahasa Indonesia namun jawabannya mengartikan dia bukan orang Indonesia. Hal yang menarik membuat kami terhenti untuk mengobrol sebentar, dia beserta teman-temannya sedang berjalan-jalan sepulang kantor, dia asli orang jepang namun fasih berbahasa Indonesia dan sering bolak balik Jepang-Indonesia untuk urusan bisnis, selama saya di Jepang, belum pernah berpapasan dan ngobrol dengan orang Indonesia, mentok-mentoknya ketemu orang Malaysia.

YANE7150

Hari sudah malam, kami lanjut ke Dotonbori untuk mencari makan malam. Menu makan malam saya adalah nasi kare dan itu adalah nasi kare terenak yang pernah saya makan (entah karena pengaruh lapar atau memang masakannya yang enak). Selanjutnya kami berfoto dengan glico man dan berkeliling Dotonburi, rencana awalnya adalah ingin mencari beberapa barang disana tetapi ternyata mereka tutup tepat jam 9 malam, wuah kami kurang cepat, sayang sekali. Sedang asyik memilih tiba-tiba kami dihampiri petugas toko, dengan sopannya sembari membungkukkan badan dia memohon maaf karena toko akan segera ditutup, duh…. mereka sopan sekali (kecewa tapi tetap terasa menyenangkan, perpaduan rasa yang aneh 🙂  ). Akhirnya setelah berhasil berkumpul dengan teman-teman yang lain, kami kembali ke hotel untuk beristirahat 🙂  To be continued.

IMG_1557

 

Iklan

6 pemikiran pada “Menuju Osaka

    • Kamarnya lumayan kecil tapi masih nyaman buat nginap jika hanya sebentar (tidak rekomen jika akan menginap lama). Agak susah dengan air sih sebenarnya, khususnya toilet dan untuk mandi, tidak semua lantai ada kamar mandi yang bisa untuk mandi. Pantrynya juga ada batasan waktu jadi kita tidak leluasa, pada saat check in pun ada deposit yang harus disetorkan di resepsionis. Diantara beberapa hotel yang kami pakai saat itu, hotel ini berada diurutan terakhir 😀 dari segi kenyamanan maupun fasilitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s